GAYUS, KEJUJURAN, DAN UJIAN NASIONALOleh : SUDOYO
Ada sebuah kisah yang cukup populer di kalangan umat Islam. Suatu hari Rosululloh didatangi oleh seorang lelaki. Lelaki itu menyampaikan maksud kedatangannya menemui Rosululloh. Dikatakannya bahwa sebenarnya ia berkeinginan untuk memeluk Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja ada satu hal yang sangat sulit baginya. Ia sama sekali tidak bisa meninggalkan kebiasaan berjudi, berzina, dan minum minuman keras. Padahal ketiga hal tersebut sangat dilarang dalam Islam.
Namun alangkah terkejutnya lelaki itu ketika Rosululloh mengatakan bahwa hal tersebut tidaklah menjadi masalah. Waktu itu Rosululloh hanya meminta satu hal. Berbuat dan berkatalah yang jujur! Lelaki itu sangat gembira. Ia menyanggupi permintaan tersebut dan berjanji untuk berbuat dan berkata jujur. Betapa mudahnya Islam, pikirnya. Maka pulanglah lelaki itu dengan perasaan berbunga-bunga.
Esok harinya, seperti biasa lelaki itu pergi ke tempat nongkrongnya bersama teman-teman kentalnya. Tatkala segelas tuak mau ditenggaknya, ia terhentak. Bagaimana jika nanti bertemu Rosululloh? Apa jawaban yang mesti disampaikan jika beliau bertanya: Apakah kamu masih suka minum minuman keras? Haruskah menjawabnya dengan jujur? Atau berbohong saja? Padahal telah disanggupinya untuk berbuat dan berkata jujur. Lelaki itu mengurungkan niatnya untuk menenggak segelas tuak.
Pada saat yang lain, lelaki itu pergi ke tempat prostitusi. Lagi-lagi ia tertegun ketika langkah kakinya baru sampai di pelataran lokalisasi. Ia ingat janjinya untuk berbuat dan berkata jujur. Apa yang mesti dikatakan jika Rosululloh menanyakan apa yang dilakukannya hari ini?
Kisah di atas dapat kita maknai bahwa kejujuran dapat mencegah perbuatan-perbuatan tercela. Kejujuran adalah awal bagi perbuatan-perbuatan mulia yang lain. Betapa pentingnya sebuah kejujuran.
Dan ini adalah kisah yang beberapa waktu lalu terjadi. Adalah Alifa Ahmad Maulana (Aam), seorang siswa kelas VI sebuah Sekolah Dasar di Surabaya. Aam dan ibunya adalah dua orang yang terusir dari kampung halamannya gara-gara Si Aam ini mengungkap praktik kecurangan ujian di SD tempatnya bersekolah. Masyarakat justru mengusir keduanya ketika diketahui bahwa Aam telah membongkar kecurangan yang dilakukan oleh gurunya sendiri. Perintah untuk mencontek dari guru, justru ditentang Aam dengan membongkarnya. Mengapa justru Aam yang diusir? Yang justru dimusuhi? Sungguh memprihatinkan jika mereka yang mencoba menegakkan kejujuran tapi justru mereka yang harus dianggap melakukan kesalahan. Tidak pentingkah nilai-nilai kejujuran di masa sekarang ini?
Gayus dan Kejujuran
Kita tentu masih ingat dengan sebuah kasus korupsi di negeri ini. Kasus yang melibatkan Gayus, seorang aparatur pemerintah, dengan korupsi pajaknya. Sungguh sangat disesalkan. Pajak yang dipungut dari rakyat, yang seharusnya diperuntukkan bagi pembangunan dan kesejahteraan rakyat, justru “ditelan” sendiri untuk “kesejahteraan” pribadi. Tidak sadarkah bahwa rakyat mengumpulkan rupiah demi rupiah dan selalu membayar pajak dari hasil jerih payahnya itu? Bagi manusia yang masih memiliki kebeningan nurani pasti tidak akan tega melakukan korupsi. Namun ternyata jejak Gayus diikuti oleh banyak oknum lainnya, meskipun dengan motif yang berbeda. Sungguh ini adalah potret buram tentang kejujuran di negeri ini.
Tahukah Anda bahwa hampir semua perbuatan tercela pasti ada ketidakjujuran di dalamnya? Gayus tentu tidak jujur dalam mengelola penerimaan pajak yang menjadi tanggung jawabnya. Jika ada suami/istri selingkuh, pasti ada ketidakjujuran pada pasangannya. Pembeli yang dirugikan umumnya karena ketidakjujuran pedagang. Penguasa yang dholim biasanya tidak jujur kepada rakyatnya.
Kita tidak sadar bahwa sebenarnya sikap jujur adalah sikap yang disukai oleh semua orang. Jika kita adalah pembeli, tentu kita menyukai pedagang yang jujur. Jika kita adalah suami, tentu lebih suka istri yang jujur. Jika Anda pelaku bisnis, apakah Anda menyukai rekan bisnis yang curang? Andaikan kita bos sebuah perusahaan, tentu akan sangat menyukai karyawan yang jujur. Singkatnya, apapun dan siapapun kita, kita suka dengan relasi kita yang jujur. Kenapa bukan kejujuran yang kita pilih?
Ujian Nasional dan Penanaman Kejujuran
Beberapa waktu yang lalu dunia pendidikan kita disibukkan dengan perhelatan rutin tahunan, yaitu ujian. Ada Ujian Sekolah (US), ada pula Ujian Nasional (UN). Secara berturut-turut dilaksanakan ujian untuk siswa SMA/SMK, SMP, dan SD.
Meskipun berbeda dengan ujian-ujian sebelumnya, Ujian Nasional tetap menjadi momok menakutkan bagi sebagian siswa, bahkan sebagian guru dan sekolah. Siswa takut tidak lulus. Guru takut dianggap tidak bisa mengajar gara-gara ada siswa yang tidak lulus. Sekolah takut dianggap tidak bermutu jika ada siswanya yang tidak lulus. Untuk itu dilakukan berbagai antisipasi sebelum ujian dilaksanakan. Tambahan jam pelajaran, les, bimbingan belajar, atau lainnya adalah menu-menu yang harus “dilahap” siswa.
Bagi guru, sungguh sangat mulia jika ia mempersiapkan siswa-siswinya dengan cara-cara yang jujur, ksatria, dan elegan. Persiapan dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Bukan cara instan yang ditempuhnya. Sejak awal tahun ajaran, pembelajaran dilakukan dengan tuntas dan optimal. Mendekati ujian, siswa dibekali dengan menambah intensitas pembelajaran. Tidak lupa siswa dibekali dengan persiapan mental spiritual. Dengan demikian pada saat ujian tiba, siswa telah siap secara materi, mental maupun fisik. Dan muaranya adalah keberhasilan mereka dalam menempuh ujian.
Namun sungguh sangat tercela dan menodai keluhuran sebuah proses pendidikan, seandainya ada oknum guru yang mempersiapkan siswa-siswinya dengan cara-cara yang tidak terpuji. Mengajari mereka untuk saling mencontek adalah contohnya. Memberi jawaban dengan dalih “menolong” mereka adalah hal yang sama tercelanya. Jika kita berniat menolong siswa, maka cara yang mendidik adalah dengan mengajari mereka bagaimana cara belajar yang baik.
Kejadian yang menimpa Alifa Ahmad Maulana (Aam) patutlah kita renungkan. Seorang guru yang memberikan ‘komando’ untuk mencontek, justru diungkap niat curangnya oleh murid sendiri. Jika guru Aam konsisten dengan nilai-nilai kejujuran yang sekian lama ditanamkannya, tidakkah ia justru bangga memiliki murid sejujur Aam? Manusia yang masih peka nurani luhurnya semestinya seperti dibangunkan dari mimpi yang membuai.Mimpi untuk memperoleh nilai rata-rata ujian yang tinggi. Mimpi untuk diakui sebagai guru yang profesional. Mimpi sebagai guru yang mampu melakukan pembelajaran yang bermutu, meski dengan cara-cara yang mencederai nilai-nilai kejujuran?
Siswa adalah benih yang siap kita semai di tempat mana yang kita kehendaki. Ia akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang kita lakukan terhadapnya. Jika benih telah tumbuh, kita dapat membentuk dan mengarahkannya. Apakah akan kita jadikan pohon kerdil karena kita bonsai, atau menjadi pohon besar yang tinggi, kokoh, dan rindang.
Sungguh, siswa belajar dari apa yang kita lakukan di sekolah. Jika kita merokok sambil mengajar, jangan coba-coba melarang anak didik untuk merokok. Percayalah, kata-kata kita akan sia-sia belaka. Jika kita tidak disiplin, silahkan berpidato tentang kedisiplinan. Maka apa yang kita ucapkan hanyalah angin lalu.
Selain belajar dari kita sebagai guru di sekolah, siswa juga belajar dari teman-teman, keluarga, dan lingkungannya. Tidak usah ajari anak-anak untuk berbuat curang, sekalipun dengan dalih untuk “menolong” mereka agar lulus ujian. Ketahuilah, jika kita mengajarkannya, sejatinya kita sedang meminuminya dengan racun yang akan mematikan benih kemuliaan akhlak dalam dirinya. Bahkan sesungguhnya kita harus mencegah tumbuhnya bakat kecurangan yang dipelajarinya dari teman dan lingkungannya, bukan malah menumbuhkembangkannya. Jika kita tetap “menolong” mereka dengan cara-cara yang tidak terpuji itu, maka sesungguhnya kita sedang mengkader calon-calon “Gayus” di masa yang akan datang.
Boleh jadi Gayus kecil ketika masih di SD telah dicekoki “trik-trik” untuk “sukses” ujian sebagaimana cara-cara tercela yang seharusnya tidak kita lakukan. Dari situlah ia belajar “trik” untuk memperkaya diri lewat korupsi.
Selamat menyongsong tahun ajaran baru. Kata-kata Dorothy Law Nolte di bawah ini barangkali patut kita renungkan:
§ Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.
§ Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
§ Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
§ Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
§ Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
§ Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.
§ Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
§ Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
§ Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.
§ Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.
§ Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian.
§ Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.
§ Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.
§ Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
§ Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
§ Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
§ Jika anak dibesarkan dengan ketenteraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.